Menumbuhkan Kembali Semangat Kebangsaan

23 September 2017

Magelang – Ideologi adalah cita-cita tertinggi yang harus dicapai oleh sebuah partai politik. Itu artinya, segenap daya dan kemampuan harus dikerahkan oleh partai itu untuk mencapainya, termasuk lewat kekuasaan.

Namun demikian, di sinilah seringkali terjadi tindakan-tindakan melenceng dari partai terhadap ideologi yang dipegangnya. Seringkali, merebut kekuasaan menjadi tujuan, sehingga ia menjadi alasan utama dibangunnya partai politik.

“Padahal, kemampuan untuk menjaga nilai-nilai dari ideologi, itulah yang utama,” demikian Ketua Fraksi Partai NasDem Viktor Bungtilu Laiskodat memulai pidato politiknya di acara Rakorwil Partai NasDem Jawa Tengah yang berlangsung di Magelang, Jumat (3/6).

Ideologi memang menjadi kosakata asing saat ini namun justru sering disuarakan oleh NasDem. Ketua Umum Surya Paloh adalah orang yang sering menyuarakannya, diikuti oleh Ketua Fraksi Partai NasDem di DPR.

Bagi Viktor, menyuarakan kembali pentingnya memelihara ideologi adalah sama pentingnya dengan mendidik anak cucu bangsa.

“NasDem mau restorasi apa? Dalam semangat ideologi Pancasila, NasDem ingin mengingatkan bahwa kita semua bisa dan sangat mudah digugat oleh anak cucu kita nanti,” gugahnya di depan ratusan peserta rakorwil.

Gugatan itu bisa muncul karena generasi yang berkuasa saat ini tidak mampu melaksanakan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan baik. Gugatan itu muncul bisa karena tidak satunya antara kata dan perbuatan dalam kehidupan politik nasional. Gugatan itu juga bisa muncul karena tidak mampunya penguasa mengelola segala potensi, kekayaan, maupun masalah negeri.

Bangsa Indonesia pada faktanya bukanlah bangsa yang terdiri dari satu suku bangsa. Bangsa ini memiliki banyak bahasa, banyak suku, dan banyak agama. Kondisi yang demikian ini menjadikan Indonesia sebagai negeri yang rentan terhadap munculnya primordialisme.

Dibutuhkan imajinasi yang kuat untuk menerawang jauh ke depan bahwa Indonesia merupakan satu bangsa. “Salut kepada anak muda yang mendeklarasikan sumpah pemuda kala itu,” ungkap Viktor.

Lalu apa yang membuat beragam suku bangsa dengan bahasa dan agamanya masing-masing itu mampu dan mau bersatu? Ialah kenyataan bahwa mereka semua mengalami penderitaan yang sama.

Di titik inilah terdapat pertanyaan penting bagi generasi saat ini: adakah generasi mendatang yang tidak mengalami penderitaan yang sama sebagai sebuah bangsa, mampu menyelami makna nasionalisme sebagaimana mereka yang mengalami penderitaan yang sama?

Oleh karena itu, kata Viktor, dibutuhkan gerakan besar-besar untuk senantiasa mengenalkan sejarah bangsa ini kepada generasi penerus. Tidak lain tidak bukan kecuali untuk memupuk dan memelihara semangat kebangsaan di dalam diri mereka.

“Negara ini bersatu karena sejarah penindasan. Untuk itu harus ada gerakan besar-besaran bahwa ada sejarah bangsa yang terus diceritakan dengan baik kepada anak cucu kita, agar mereka tahu mengapa kita semua bersatu,” kembali Viktor menegaskan.

Tantangan sistem pemilihan

Salah satu hal yang perlu dipahamkan kepada generasi saat ini adalah soal mekanisme meraih kekuasaan. Inilah yang menjadi tantangan pelaksanaan demokrasi Indonesia saat ini.

Sistem one man one vote, seolah menjadi keharusan dan ukuran kemajuan demokrasi sebuah bangsa. Dalam pandangan Viktor, “Negara ini sejak awal sejarah perjuangannya tidak tertarik dengan voting! Musyawarahlah yang dijunjung setinggi-tingginya.”

Itulah mengapa, tambahnya, Nasdem menolak adanya wacana untuk menambah kursi pimpinan DPR, apalagi jika itu didasarkan pada mekanisme voting.

Voting bukanlah karakteristik demokrasi Indonesia. Karakteristik manusia nusantara adalah guyub, komunal, dan gotong royong; ciri khas masyarakat desa. Segala kegiatan publik dilakukan dengan asas kebersamaan. Itulah mengapa Hatta mengatakan demokrasi khas di Indonesia adalah demokrasi ala desa.

Sementara demokrasi yang didasarkan pada voting beralaskan semangat individualisme. Oleh karena itu pada dasarnya, voting ataupun one man one vote, tidaklah kompatibel dengan karakteristik masyarakat Indonesia.

“Dan Partai NasDem akan berdiri di depan untuk mengembalikan nilai musyawarah, nilai gotong royong itu,” ujarnya berapi-api.

Primordialisme mungkin tidak bisa hilang tapi ia bisa diminimalisir dengan semangat gotong royong dan kebersamaan. Untuk itu, pekerjaan Partai NasDem adalah membangun kembali nilai-nilai sejati bangsa nusantara, agar negara ini benar-benar sejajar dengan bangsa-bangsa lain dalam arti yang sesungguhnya.

Viktor menegaskan, restorasi harus diawali dari diri sendiri. Partai NasDem membawa mimpi besar bagi bangsa ini yang komitmennya adalah jiwa dan raga. Mustahil mimpi itu bisa dicapai jika pribadi-pribadi yang ada di dalamnya tidak memulainya dari dirinya sendiri.

“Kita harus melatih diri agar kita imun terhadap godaan korupsi. Berat memang. Setiap Fraksi memiliki jatah Rp 100 miliar. Tapi NasDem berkomitmen untuk tidak mengambil jatah itu. Itulah imun!” Tuturnya dengan penuh kesungguhan.

Untuk memulai komitmen tersebut Partai NasDem menerapkan mekanisme kepatutan diri: mundur apabila melanggar. Jika tidak mundur maka ia akan dimundurkan.

Sejauh ini NasDem teguh memegang komitmen itu. Contoh konkretnya adalah mantan Sekjen Rio Capella yang langsung mengundurkan diri pasca ditetapkan sebagai tersangka.

Namun Viktor mengingatkan, sekadar komitmen tidaklah cukup. Apalagi jika disadari bersama bahwa tiap-tiap individu yang ada di dalam Partai NasDem adalah lemah adanya. Oleh karena itu di antara fungsionaris Partai harus saling mengingatkan satu sama lain. “Inilah kuncinya! Karena harus disadari bahwa kita semua lemah,” imbuhnya.

Dalam semangat saling mengingatkan itu, sebagai Ketua Fraksi Partai di DPR, Viktor memerintahkan kepada seluruh DPRD di Indonesia untuk memiliki mata anggaran sendiri.

Partai membutuhkan loyalis ideologis, karena inilah kunci bagi NasDem untuk menjadi sebuah partai yang besar.

Hal ini penting mengingat cita-cita Partai NasDem yang selalu dikumandangkan oleh Ketua Umum adalah, “Partai NasDem tidak hanya ingin melahirkan politisi handal, akan tetapi lebih dari itu, melahirkan para negarawan!”

“Apa beda politisi dan negarawan?” kata Viktor retorik.

Politisi, demikian sambungnya, adalah mereka yang hanya berpikir untuk terpilih kembali pada periode berikutnya. Entah dia anggota dewan, entah bupati atau gubernur, atau presiden sekalipun.

Sementara Negarawan adalah mereka yang berpikir, bersikap, dan bertindak untuk masa depan anak cucu bangsa ke depan.

Komentar